Jumat, 09 September 2011

Versi 2" ETNIK DAYAK= ETNIK INDO CINA " DAYAK : UNEVERSAL ETNIC FROM YUNAN OR ETNIC iNDO CINA ,SUKU SUKU DARATAN ASIA TENGGARA


Etnik Indochina atau Semenanjung Indochina adalah wilayah di Asia Tenggara. Karena berada di timur India dan selatan Tiongkok, budaya Indochina sangat erat dengan budaya Tiongkok dan India. Sepeti nama Vietnam yang menunjukan pengaruh Tiongkok, dan nama Kamboja, Laos, Thailand merupakan pengaruh India.

Ada 2 pengertian tentang Indochina, sempit dan luas:

  • Pengertian sempit; Hanya terdiri atas negara-negara bekas Indochina Perancis
  • Pengertian luas; suku -suku Asia Tenggara Daratan yang berasal dari yunan mencakup pula Yang sering di sebut Astronesia Etnic Indocina merujuk hasil penelitian ((Inggris) History of the mountain people of southern Indochina up to 1945 (Bernard Bourotte, i.e. Jacques Méry, U.S. Agency for International Development,

Kategori: Asia Tenggara

    • Semenanjung Malaysia
    • Myanmar
    • Thailand
    • Borneo(Dayak )
    • PHILIPIN
    • laos
    • kaboja
    • yunan
    • Kalimantan (dayak)
    • Nias ,Sumatra
    • Mentawai
    • Toraja (sulawesi)
    • manado(sulawesi)

Agama utama Indochina adalah Buddha Theravada dan Hinayana, Mahayana dominan di Vietnam,kamboya ,myanmart .kharingan

contoh suku suku nusantara

Suku Nias :menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.

suku manado :Kaum Malesung/ Minahasa yang menurunkan suku-suku :Tonsea, Tombulu, Tompakewa, Tolour, Suku Bantenan (Pasan,Ratahan),Tonsawang, Suku Bantik masuk tanah minahasa sekitar tahun 1590 .

Suku Minahasa atau Malesung mempunyai pertalian dengan suku bangsa Filipina dan Jepang, yang berakar pada bangsa Mongol didataran dekat Cina. Hal ini nyata tampak dalam bentuk fisik seperti mata, rambut, tulang paras, bentuk mata, dll.

Dalam bahasa, Bahasa Minahasa termasuk rumpun bahasa Filipina Tetua- tetua Minahasa menurunkan sejarah kepada turunannya melalui cerita turun temurun (biasanya dilafalkan oleh Tonaas saat kegiatan upacara membersihkan daerah dari hal- hal yang tidak baik bagi masyarakat setempat saat memulai tahun yang baru dan dari hal kegiatan tersebut diketahui bahwa Opo Toar dan Opo Lumimuut adalah nenek moyang masyarakat Minahasa, meskipun banyak versi tentang riwayat kedua orang tersebut.

Keluarga Toar Lumimuut sampai ketanah Minahasa dan berdiam disekitar gunung Wulur Mahatus, dan berpindah ke Watuniutakan (dekat Tompaso Baru sekarang dan dengan kehidupan pertanian yang sarat dengan usaha bersama dengan saudara sekeluarga/ taranak tampak dari berbagai versi tarian Maengket) Sampai pada suatu saat keluarga bertambah jumlahnya maka perlu diatur mengenai interaksi sosial didalam komunitas tersebut, yang melalui kebiasaan peraturan dalam keturunannya nantinya menjadi kebudayaan Minahasa.

Demikian juga dengan isme atau kepercayaan akan sesuatu yang lebih berkuasa atas manusia sudah dijalankan diMinahasa sejak awal.

Tingkatan atau status sosial diatur sbb :

Golongan Makasiow (pengatur ibadah yang disebut Walian/ Tonaas) hingga saat ini istilah yang dipakai adalah 2 X 9 ( 9 orang tonaas yang menempati posisi antara Sang penguasa dengan Surga dan Bumi, Baik tidak Baik, dan semua hal tentang keseimbangan Golongan Makatelu pitu (pengatur/ pemerintah dengan gelar Patu’an atau 3 X 7 Teterusan/ kepala desa dan pengawal desa disebut Waranei ( 7 orang pengatur/ pemerintah)

Golongan Makasiow Telu 9 x 9

Seiring waktu, jumlah penduduk bertambah, tempat tinggal mulai padat dan lahan terbatas, maka keturunan Toarlumimuut berpencar tumani (membuka lahan baru)untuk kelangsungan taranak mereka serta Golongan Pasiyowan Telu (rakyat)

Sejak awal bangsa Minahasa tiada pernah terbentuk kerajaan atau mengangkat seorang raja sebagai kepala pemerintahan

Kepala pemerintah adalah kepala keluarga yang gelarnya adalah Paedon Tu’a atau Patu’an yang sekarang kita kenal dengan sebutan Hukum Tua. Kata ini berasal dari Ukung Tua yang berarti Orang tua yang melindungi. Ukung artinya kungkung = lindung = jaga. Tua : dewasa dalam usia, berpikir, serta didalam mengambil Kehidupan demokrasi dan kerakyatan terjamin Ukung Tua tidak boleh memerintah rakyat dengan sewenang-wenang karena rakyat itu adalah anak-anak dan cucu-cucunya, keluarganya sendiri Sebelum membuka perkebunan, berunding dahulu dan setelah itu dilakukan harus dengan mapalus Didalam bekerja terdapat pengatur atau pengawas yang di Tonsea disebut Mopongkol atau Rumarantong, di Tolour disebut Sumesuweng.

Sumber: Kawanua

suku Dayak:

Secara umum seluruh penduduk di kepulauan Nusantara disebut-sebut berasal dari Cina selatan, demikian juga halnya dengan Suku Dayak. Tentang asal mula bangsa Dayak, banyak teori yang diterima adalah teori imigrasi bangsa Cina dari Provinsi Yunnan di Cina Selatan. Penduduk Yunan berimigrasi besar-besaran (dalam kelompok-kelompok kecil) diperkirakan pada tahun 3000-1500 SM (sebelum masehi). Sebagian dari mereka mengembara ke Tumasik dan semenanjung Melayu, sebelum ke wilayah Indonesia. Sebagian lainnya melewati Hainan, Taiwan dan Filipina.

Kamis, 08 September 2011

Rumah Betang di Saham-Pahauman-Landak


Pada Hari Minggu tgl. 21 Agustus 2011, disore hari ingin mengunjungi Antonius Toton teman sekals ketika masih di SMA Nyarumkop, tapi apa lajur, beliau belum pulang dari Sidas karena masih antri membeli BBM. Saat itu saya dan Yohansen ( Anak Angkat) meilih menuju ke Tumah Betang Saham saja, dimana Rumah Betang ini adalah tempat Bupati Adrianus AS dibesarkan.

Saham Long House atau Rumah Betang Saham adalah rumah adat suku Dayak Kanayan yang berbentuk rumah panggung dengan ketinggian 3 meter dan memanjang ke samping hingga lebih kurang 200 meter. Rumah Betang Saham terletak di Desa Saham, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak yang tidak jauh dari jalan raya Pontianak-Kuching. Menurut penuturan salah satu penghuni yang bernama bapak Paulus Ngidar, rumah Betang ini sudah ada bahkan saat gunung Krakatau meletus tahun 1883. Bila penuturan beliau ini benar maka usia rumah ini lebih dari 127 tahun, terpaut 40 tahun dari usia bapak Paulus Ngidar saat ini.

Pada awalnya saya bingung bagaimana caranya membuat rumah sepanjang ini, namun akhirnya rahasia itu terungkap. Pada awal pembuatannya Rumah Saham ini hanya terdiri dari 3 bilik sepanjang 18 meter. Seiring dengan bertambahnya anggota keluarga dibuatlah bilik baru yang menyatu dengan bilik sebelumnya. Hingga saat ini ada 34 bilik menyatu bersama membentuk satu rumah dengan panjang ratusan meter. Inilah salah satu rahasia dibalik Rumah Betang Saham. Rahasia berikutnya adalah resep tahan lama.

Pada saat mengetahui bahwa rumah ini berusia ratusan tahun,pertanyaan yang terbersit di kepala saya adalah 'kok bisa?'. Ternyata rahasianya ada pada bahan dasar rumah ini,yakni berupa kayu belian atau kayu Ulin. Kayu yang dikenal dengan nama lain kayu besi ini memang merupakan jenis kayu yang sangat kuat dan awet. Kayu ini tahan terhadap serangan rayap dan hama, perubahan suhu dan kelembapan, bahkan tahan terhadap rendaman air tawar dan air asin.Itu adalah ebuah kayu yang sangat luar biasa dan merupakan kayu langka yang hanya terdapat di beberapa hutan di Kalimantan.

Karena kekerasannya kayu ini sangat sulit untuk dibentuk. Lalu bagaimana caranya orang Dayak pada masa itu membuat rumah ini? Dengan hanya menggunakan kapak batu, kayu Ulin dibentuk. Itulah mengapa tiang-tiang penyangga rumah ini tidak rata. Sebuah cara yang memang sesuai dengan perkembangan kebudayaan suku Dayak masa itu. Hal ini sekali lagi menimbulkan kekaguman pada diri saya kepada mereka. Masih banyak hal mengagumkan lain dari rumah paling tua di Pontianak ini, rekan saya akan menuliskan untuk memuaskan rasa penasaran anda semua. Selamat menikmati