Upacara dalam masyarakat Dayak Kanayatn tidak dapat dipisahkan dari sistem kepercayaan dan religi. Perwujudannya direalisasikan melalui berbagai ritus atau upacara ritual, agar mereka memperoleh pertolongan roh gaib, roh para leluhur, dan Jubata. Upacara dalam konsep kepercayaan seperti itu dimaksudkan sebagai pembuktian keyakinan terhadap Jubata sekaligus pemantapannya. Ia merupakan transpormasi hubungan manusia dengan alam gaib sebagaimana tergambar dalam setiap prosesi upacara. Di sinilah masyarakat memperjelas dan mempertegas konsep tentang apa yang mereka yakini dan adat yang mereka jalankan. Usaha memperjelas itu dilalui dengan tindakan, mantra-mantra, nyanyian, musik dan tari, sampai pada penuangan simbol-simbol tertentu. Konsep seperti ini akhirnya membawa posisi religi lebih mendominasi dalam kehidupan mereka. Mereka membagi upacara-upacara tersebut menjadi beberapa macam sebagai beikut.
a. Upacara yang Berkaitan dengan Inisiasi
1) Upacara sebelum perkawinan.
Biasanya sebelum upacara pernikahan diadakan, terlebih dahulu pihak keluarga melakukan Bahaupm (musyawarah). Pada upacara ini calon mempelai laki-laki dan mempelai perempuan akan menentukan apakah suami ikut istri atau sebaliknya.
2) Upacara Ngaladakng Buntikng
Upacara ini dilaksanakan di kamar suami istri pada saat hamil 3 bulan. Upacara ini dilakukan dengan maksud menghindari keguguran, terutama saat hamil pertama.
3) Upacara Batalah
Upacara Batatah, yaitu upacara untuk memberi nama pada bayi yang baru lahir. Upacara ini dilakukan setelah tiga atau tujuh hari kelahiran bayi yang didahului dengan prosesi pemandian bayi. Apabila upacara ini dilakukan pada hari ketiga setelah kelahiran bayi, maka upacara ini harus disertai dengan penyembelihan seekor ayam untuk selamatan. Bila upacara dilaksanakan pada hari ketujuh, maka disembelih seekor babi untuk perjamuan dan balas jasa yang menolong kelahiran.
4). Upacara Batenek
Batenek adalah upacara melubangi telinga anak perempuan. Upacara ini dilakukan setelah anak berumur antara dua sampai tiga tahun.
5) Upacara Babalak
Babalak adalah upacara penyunatan anak laki-laki di bawah usia sepuluh tahun. Upacara ini masih tetap dijalankan walaupun orang Dayak masih memegang kuat kepercayaan lama. Dalam upacara ini biasanya disembelih tiga ekor babi dan dua belas ekor ayam. Bagi keluarga yang tidak mampu, perayaannya dapat digabungkan dengan keluarga lain yang mampu, namun harus menyumbang seekor ayam, tiga kilogram beras sunguh (beras biasa), dan tiga kilogram beras pulut (ketan).
6) Upacara adat Karusakatn.
Karusakatn adalah upacara yang berhubungan dengan kematian. Bagi orang Dayak Kanayatn, orang yang meninggal harus dikuburkan paling lama satu malam setelah meninggal. Upacara kematian ini terdiri atas beberapa bagian, yaitu:
(a) Upacara adat Basubur, yakni upacara untuk memberi makan orang yang telah meninggal;
(b) Upacara Barapus, yaitu upacara yang dilakukan tiga hari setelah pemakaman untuk memberitahukan kepada orang yang meninggal bahwa ia telah meninggal dunia;
(c) Upacara Malahi, yaitu upacara yang dilakukan di tengah ladang seperti orang yang meninggal itu melakukan sesuatu, seperti mengerjakan ladang atau sedang panen. Pelaksanaan upacara ini bertujuan agar arwah orang yang meninggal tidak mengganggu ladang;
(d) Upacara Ngalapasatn tahun mati, yakni upacara untuk melepas arwah orang yang telah meninggal setelah tiga tahun. Jika belum genap tiga tahun, maka keluarga orang yang meninggal harus memberi sesaji setiap ada upacara adat.
b. Upacara yang Berkaitan dengan Pertanian
Masyarakat Dayak Kanayatn merupakan masyarakat agraris, yaitu masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari pertanian. Sebagai masyarakat petani, orang Dayak Kanayatn memiliki beberapa tradisi yang berkaitan dengan siklus pertanian selama satu tahun, yang dkenal dengan adat bahuma batahutn. Menurut aturan adat dikenal sejumlah upacara yang dilakukan pada setiap tahapan pertanian. Tahap-tahap pertanian ini dimulai setiap bulan Juni sampai bulan April. Adapun urutan upacara yang dilakukan adalah sebagai berikut.
1) Upacara Nabo’ Panyugu Nagari
Sebelum membuka suatu lahan pertanian, pertama-tama seluruh penduduk desa harus meminta ijin bersama-sama dengan cara berdoa di Panyugu (tempat ibadat) ketemenggungan. Agar doa ini terkabul, maka penduduk harus bapantang (menjalankan pantang) selama tiga hari tiga malam. Selama masa bapantang itu masyarakat tidak boleh bekerja, tidak makan daging, pakis, rebung, cendawan, dan keladi. Mereka juga tidak boleh mengeluarkan kata-kata kotor atau umpatan yang dapat menyebabkan bapantang itu gagal.
2) Upacara Nabo’ Panyugu Tahutn
Upacara ini dilakukan untuk menetapkan lokasi pertanian dengan sembahyang di Panyugu untuk memohon keselamatan dan berkah yang baik. Hal ini dilakukan karena masyarakat Dayak Kanayatn parcaya bahwa keberhasialan ritual dapat menentukan keberhasilan panen mereka tahun itu.
3) Upacara Ngawah
Upacara ini dilakukan malam hari untuk mencari tempat yang cocok untuk menanam padi. Pencarian lahan dilakukan dengan cara mengetahui gajala-gejala alam seperti bunyi burung dan binatang yang dapat memberi petunjuk kepada mereka dalam menentukan lahan pertanian. Adapun binatang-binatang itu, seperti kunikng, kalingkoet, tampi’ seak, ada’atn. Jika terdengar bunyi di atas bukit, berarti pertanian di dataran tinggi akan berhasil (ladang), namun bila bunyi berasal dari lembah, maka hal itu merupakan tanda pertanian ladang akan suram. Bila ditemukan bangkai binatang di atas lahan pertanian, menandakan bahwa lahan yang sudah ditentukan itu baik untuk ditanami.
4) Upacara Mandangar Rasi
Upacara ini dilakukan setelah upacara Ngawah. Upacara ini merupakan tanda bunyi dari alam yang menyatakan baik atau buruk hasil pertanian nanti (pesan rasi). Apabila pesan rasi dianggap baik, maka pekerjaan diteruskan, sebaliknya bila pesan dari rasi tidak baik, maka pekerjaan harus dihentikan.
5) Kegiatan Ngaratas
Ngaras merupakan kegiatan membuat lajur batas atas lahan pertanian dengan lahan tetangga. Setelah itu barulah bahuma (menebas) hutan sampai dengan selesai. Hal ini dilakukan untuk menghindari kesalahpahaman dan agar tidak terjadi pengambilan batas tanah ladang orang lain.
6) Nabakng
Nabakng adalah upacara menebang pohon setelah kegiatan menebas. Setelah itu dilakukan upacara baremah dengan membuat persembahan untuk Jubata, agar diperbolehkan memakai lahan pertanian atau ladang yang akan digarap. Bila ada pohon besar, maka pohon tersebut tidak ditebang, melainkan hanya dikurangi cabang-cabangnya. Orang Dayak Kanayatn percaya bahwa pohon besar biasanya dihinggapi burung tingkakok atau burung berkat padi yang menjaga dan menimbang buah padi, sehingga pada waktu panen nanti akan mendapat padi yang baik (berisi) dan melimpah.
7) Ngarangke Raba’
Ngarangke Raba’ adalah upacara mengeringkan tebasan dan tebangan dalam beberapa waktu untuk kemudian dibakar. Sebelum dibakar dilakukan ngaraki’ yaitu membersihkan daerah sekeliling yang akan dibakar untuk pencegahan merambatnya api secara luas. Upacara ini dilakukan untuk meminta berkah pada roh pelindung sebelum pekerjaan selanjutnya dilaksanakan.
8) Membuat Solor atau Jaujur
Upacara ini adalah upacara pembuatan tanda batas antara ladang milik sendiri dengan ladang tetangga agar jangan sampai terjadi kesalahpahaman karena kesalahan pemakaian batas tanah garapan.
9) Upacara Batanam Padi
Upacara Batanam padi ini terdiri dari: (a) Upacara Ngalabuhan, yakni upacara memulai tanam padi; (b) Upacara Ngamala Lubakng Tugal. Upacara ini dilakukan di sawah atau ladang secara intensif agar padi yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, berhasil dan tidak diganggu hama; (c) Upacara Ngiliratn penyakit padi atau menghanyutkan padi-padi bekas gigitan hama maupun binatang ke sungai dengan maksud membuang sial (penyakit).
10) Upacara Ngabati
Upacara ini dilaksanakan di tengah ladang pada saat hendak panen padi atau saat padi menguning. Upacara ini merupakan permohonan agar padi yang telah menguning tersebut tidak diganggu hama tikus dan agar semua padi berisi, sehingga bila panen tiba hasilnya banyak.
11) Upacara Naik Dango
Upacara Naik Dango merupakan upacara inti dari beberapa tahapan upacara yang berkaitan dengan panen padi (pesta penen). Upacara ini merupakan upacara syukuran padi yang dilaksanakan masyarakat Dayak Kanayatn setiap setahun sekali pada tanggal 27 April. Pelaksanaannya dilakukan secara bergiliran setiap kecamatan di Kabupaten Landak. Upacara ini merupakan upacara besar yang banyak melibatkan masyarakat dan kesenian di dalamnya.
Panggil aja Adi"Dayak" agar tidak kehilangan indentitas di perantauan, senang berkenalan dengan siapa aja, silahkan dan ayo kita kenalan, tempat tinggal bisa di Kalimantan atau Sumatera, profesiku Petani,mendalami Adat & Budaya Dayak, suka dengan tantangan di alam bebas. Siapa yang mau ikutan, tempat masih terbuka lebar.
Minggu, 12 Juni 2011
ADAT KEMATIAN DALAM SUKU DAYAK AHE'
ADAT KEMATIAN DALAM SUKU DAYAK AHE'
Sumber : http://www.diridayak.co.cc
1. Adat Istiadat Memandikan Jenazah
a. Disediakan air yang sudah dimasak dicampur dengan air dingin diberi sedikit bunga-bugaan, daun pandan, langir badak dan disiapkan sabun.
b. Setelah dimandikan disiapkan 1 stel pakaian lengkap serba putih dipasang pada badan simati seperti biasa kemudian di baringkan keruang serambi lurus kakinya ke arah pintu keluar kemudian dibungkus dengan kain kapan (kain putih).
c. Setelah itu disiapkan 1 babak pahar untuk tempat makanan simati berupa nasi, sayur, air dll dan 1 buah peti (tas) tempat pakaian yang pernah dipakai semasa masih hidup ini ditaruh disamping jenazah ini tanda memberikan kepadanya untuk dibawa ke alam baka tempat suci baraseh.
2. Adat Istiadat Nau
a. 1 ekor babi laki sebelum dibuang bulunya diambil dulu dari jungur sampai telinga, ekor dan kuku kakinya dengan cara diturih kulitnya.
b. 2 ekor ayam masing-masing diambil sayap, kepala dan kaki sebelah kanan. Kesemuaini dibawa di kuburan (tanda memberi simati). Seluruh anggota keluarga yang datang menyiapkan keperluan pati jenazah, tambak, dan persiapan lainnya 1 buah tempayan paluk dan peralatan pekerjaan yang pernah ia miliki untuk dibawa kekuburan.
c. Jika yang sedang keturunan yang mempunyai kedudukan ditengah-tengah masyarakat ianya supaya dibuatkan untuk seorang laki-laki ini dibuat sanung/ baegamangk selama 3 hari berturut-turut setelah jenazah dimakamkan sampai kepada adat muang abu.
d. Adat istiadat membuat pangkalan atau baegamangk (1 hari 1 ekor ayam) disediakan juga makanan yang agak mewah, jangan sampai lapar orang yang bekerja, karena menaruh pandangan adat kemewahan yang dilakukan pada saat mempersiapkan keperluan orangmeninggal, ini langsung ditempatkan ditempat suci baraseh (di bait pama)
e. Sedangkan kalau yang meninggal setiap perempuan, dia dibuatkan pangkalat dan harus dibuat pada saat jenazah belum dimakamkan dengan perlengkapan seperti huruf c diatas pembuatannya hanya 1 hari.
3. Adat Istiadat Nurutant Jenazah
Jenazah dimasukan didalam alokng (peti) semua anaknya dipersilahkan untuk melangkahi jenazah masing-masing 7 kali anggota keluarga lainnya menyiapkan 1 tombak, 2 payung, 3 dompo untuk dibawa oleh orang yang terdepan membunyikan gong dan membunyikan letusan senapan (bedil)memecahkan tambangk air tadi dibawa juga dikuburan untuk dipasangkan sebagai suda sebanyak 7 biji di keliling kuburan.
4. Adat Istiadat Sampai Di Kuburan
Sebelum masukan pati jenazah, lubang lahat dipasang sau, dengan dompo yang dibawa dari rumah ditambah dengan longke untuk rabun dikuburan, setelah petidimasukan dilapisi lobang didirikan sebatang kayu kecil untuk lobang panyaru sumangat semua anggota keluarga yang ikut menyiapkan di kuburan dan membagi-bagikan semua makanan yang disiapkan untuk simati kepada semua keluarga yang telah dikuburkan terlebih dahulu ditempat ini.
Pangurukng sumangat dilaksanakan setelah selesai penimbusan tanah kuburan, salah satu seorang menyampaikan pesan-pesan kepada almarhum dengan terlebih dahulu nigapm (menepuk) tanah sebanyak 7 kali. Setelah pesan-pesan selesai dibagikan pangurukng sumangat berupa daun yang
dilepetan tersebut supaya tidak rere’ (dipengaruhhi) oleh roh almarhum dan sumangatnya masuk kedalam tubuhnya masing-masing (lepetan daun disisipkan ketelinga).
Saat acara pangurukng sumangat dikuburkan, si pembawa pesan mulai menigapm ( menepuk ) tanah pada bagian kepala sebanyak 7 kali seraya mengatakan kata-kata sebagai berikut : “asa-dua-talu-
ampat-lima-anam-tujuh.................duhani kao sianu(disebutkan namanya) a-iatn aku masatnnia kao, kao dah pulakng ka’ nagari binua asalnyu, man jodo bagiatnnyu-janji man ne’ nangenyu. Kao batikar tanah- bakubu amutn – babantal urat – barapi janyahakng, bajalatn kao baik-baik- ame kao ngeba’ nganan, tanui ne’ nangenyu, ame kao ngalit, ame kao taap surabekng ka’ jukut urakng – pamare’ kami dah cukup ka’ kao, nang ada kao tantuatn – nang nana’ ame’ kao gago’i, kao urajng nang di pamaluatn, urakng nang pagalar pangurangtakng, ame kao jadi ganye – jadi ular – jadi tikus – jadi ampe’-ampe’ – ame kao jadi baho ka’ uma ka’ tahutn. Kao jadi biat – jadi pama – tangahi’ anak ucu’nyu - kampong halaman – binua nagari kami. Didiatn kao tamui da’ sainu (disebutkan sanak keluarganya yang dikuburkan disitu) – ame kita na’ bapaduliatn.
Iatn pasatn kami dah cukup ka’ kao sianu’a – kao dah pulakng ka binua nagari asalnyu – man jodo bagiatnnyu – ame kao ngarere ngalimat kami. Kurs... sumangat kami – pulakng ka’tubuh ka’ karokngnya – ame rere’ man urakng mati”.
5. Adat Istiadat Pulang dari kuburan.
a. Pulang dari kuburan langsung mandi di sungai air bunga lengkap dengan balangir babadak, sebelum naik rumah basau’ barabun dengan daun longke daun mentawa dal lain-lain. Karena menurut adat kuburanadalah tempat yang kotor nang ece.
b. Sesampai dirumah mereka yang ikut menguburkan boleh mandi dahulu, kemudian selesai mandi mereka kumpul kembali dirumah duka, dan diadakan upacara “panetekng” untuk nyaru (memanggil) sumangat kemungkinan sudah ada yang rere’ dengan roh almarhum. Setelah selesai adat Panetekng dilanjutkan dengan acara makan, barulah diadakan acara becece’ mati sebagaimana yang telah diuraikan.
c. Ai’ Balik :
Dipelantaran (pante) dipasang ai’ balik yang terdiri dari abu yang ditaruh diatas sobokng, kemudian didalam piring dan ditutup dengan pangayak. Sedangkan diujung pante dibuat tanga antu, yang tepaknya terbalik. Kesemuanya ini dimaksudkan untukmenyadarkan roh almarhum bahwa ia sudah berada dialam lain (sudah mati) tatkala ia melihat bayangannya didalam air yang ditutup pangayak. Abu dalam sobokng maksudnya supaya bekasnampak dan dapat diketahui bahwa ia betul-betul datang kembali.
6. Adat Istiadat Bacece’ Mati
a. Adat Bacece’ mati diadakan dirumah yang meninggal pada setelah makan sore (malam) dengan takarant adat buah pacak 10 amas dengan rincian sebagai berikut :
1 buah mangkok + paku untuk ngago’ (lihat berapa cabang yang menanggil orang)
1 singkap pingant + paku untuk nglulut ( memandikan 0
1 singkap pingant + paku untuk nang bakayu (pati jenazah + tambak)
1 singkap pingant + paku untuk nang mikul (membawa peti jenazah)
1 singkap pingant + paku +1 1 lembar parang panumbah tanah untuk gali lobang kuburan dan natak bantal kaintonotn.
1 buah mangkok + lonekng manok + paku untuk badango
Yang menerima pingant dan mangkok tidak harus dibawa tapi hanya dipegang dan paku hanya digigit sebagai pangkaras, terkecuali mati bangkak, mati tara, diburut, mati baranak, mati ngotori memang harus dibawa.
b. Pertanyaan dari masyarakat mengawali sebab kematian, apa ada penyebab lain selain jodo janji bakalahi, baancam, mati man jodoh janjinya, mati suci baraseh nana, bajangkang baraba, mati balangir babadak.
c. Pertanyaan kedua tantang persengketaan utangk piutangk, kedalam pertanyaan ini supaya jelas, kalau ada simati berutangk atau ada orang lain yang barutangk pada simati ini harus dibicarakan dalam tempo 3 hari sampai 7 hari, dan harus diketahui oleh masyarakat, sampai juga pada pembagian harta benda simati yang kembalinya kepada siapa-siapa, ini supaya diketahui oleh waris
dan pengurus. Seandainya pada saat itu ada yang belum sempat hadir, masih diberikan kesempatan 3 hari kemudian yaitu pada saat upacara adat muangi abu. Tikar-kubu’ atau bisa juga setelah 7 hari setelah diadakan upacara adat basuayak. Pangajuan utang piutang setelah itu, tidak dibenarkan. Pertanyan ketiga apakah tahutnnya ada ditantuant (akan dilaksanakan upacara adat ngalapasatn tahutn, setelah 3 tahutn). Jika tidak ada dilaksanakan, cukup diadakan berapus setelah 7 hari.
Pertanyaan keempat yaitu mengenai keadaan tubuh, jika yang meninggal suaminya, kebetulan istri almarhum masih dalam usia produktif yang di tanyakan apakah isteri almarhum dalam keadaan hamil atau tidak kotor, atau baru habis kena kotor. Pertanyaan kelima mengenai tanggung jawab nantuant, ngiringkant, anak-anak almarhum. Waris dua belah pihak masing-masing menangkupkan tangan diatas kepala anak-anak, tanda bersedia membantu pada saat di perlukan.
Kemudian diadakan adat “kalangkah tikar” oleh isteri almarhum berupaya uang katip di taruh diatas piring kecil, diterima oleh dua madi ”ene” (sepupu dua kaki) almarhum. Kalangkah tikar dikeluarkan oleh isteri almarhum yang masih berusia produktif, artinya mohon persetujuan ahli waris, jika ada suatu isteri almarhum mendapat jodih, asal saja perlu bermufakat dengan ahli waris almarhum terlebih dahulu, jika perjodohan itu masih dalam kurun waktu 3 tahn atau sebelum ngalapasatn tahutn. Kalau perjodohan itu tidak dimufakatkan dengan ahli waris, maka ia dapat dapat dikenakan adat “parangkat antu” atau parangkat mati. Akan tetapi walaupun telah mufakat dengan ahli waris almarhum, ia dapat dikenakan adat “pampalit ai” mata.
7. Adat Istiadat Malahi
Apabila simati meninggal “ningalatn tahutn” artinya masih dalam musim patahunan artinya dari batas mulai nugal padi hingga sebelum lepas panen, maka diadakan balahatn ditengah uma yaitu sebagai malaki’ (memberikan bagian padanya). Karna itu telah merupakan bagiannya dfipagar dengan bambu yang dibelahl, cukup diberi alat-alat ka’ uma seperti tarinak, topokng pamanih dsb.
8. Adat stiadat Muangi Tikar Kubu (Ngabu).
Upacara adat ini dilakukan setelah 3 hari ia dikuburkan, dimaksudkan agar roh almarhum tidak lagi mengingat-ngingat segala pakaian sudah diserahkan kepadanya(muangi/dibuang) adalah istilah yang juga agar roh almarhum tidak menganggu keluarganya yang masih hidup, mungkin karena dia (rohnya) dataang untuk meminta pakaiannya.
9. Adat Istiadat Basuayak (bnarapus).
Basuayak adalah suatu adat yang dilakukan 7 hari setelah ia meninggal. Maksudnya adalah untuk memisahkan roh almarhum dengan keluarganya yang masih hidup, agar rohnya tidak mempengaruhi, ngarere’ ataupun ngalimat keluarganya.
Hal ini dilakukan apabila ada tanda-tanda, ataupun perasaan bahwa rohnya masih “dirasakan” sering datang.
Hari ketujuh ini, jika digunakan untuk basuayak, bisa juga digunakan untuk berapus, yaitu suatu upacara adat yang diadakan apabila ada ngalapasatn tahutn tidak akan dilaksanakan, namun beban perasaannya tidak ada lagi.
10. Adat Istiadat Ngalapasatn Tahutn
Ngalapasatn tahutn upacara adat yang dilaksanakan setelah 3 tahutn almarhum meninggal. Bias juga dilakukan sebelum 3 tahutn ngalapasatn tahutn. Setelah itu pada masa-masa almarhum dengan keluarga sudah diangap habis (selesai).
11. Adat Istiadat Makam Panyugu
Walaupun hubungan roh sudah dianggap selesai setelah diadakan upacara adat ngalapasatn tahutn, namun ada pula semacam kebiasaan dalam masyarakat untuk tetap menghormati almarhum dengan mengadakan persembahan dikuburan (makam) almarhum.
Hal ini dilakukan karena mereka anggap penjelmanya sebagai biat pama yang dapat melindungi dan memberikan rejeki kepada anak cucunya. Mungkin saja selama hidupnya almarhum adalah seorang yang baik seorang pagalar ataupun dianggap seorang yang sangat bijaksana dan banyak ilmunya. Karena kuburan itu dibersihkan dan dihormati pada saat tertentu untuk persembahan / bapinta, makanya disebut makam panyugu.
Sumber : http://www.diridayak.co.cc
1. Adat Istiadat Memandikan Jenazah
a. Disediakan air yang sudah dimasak dicampur dengan air dingin diberi sedikit bunga-bugaan, daun pandan, langir badak dan disiapkan sabun.
b. Setelah dimandikan disiapkan 1 stel pakaian lengkap serba putih dipasang pada badan simati seperti biasa kemudian di baringkan keruang serambi lurus kakinya ke arah pintu keluar kemudian dibungkus dengan kain kapan (kain putih).
c. Setelah itu disiapkan 1 babak pahar untuk tempat makanan simati berupa nasi, sayur, air dll dan 1 buah peti (tas) tempat pakaian yang pernah dipakai semasa masih hidup ini ditaruh disamping jenazah ini tanda memberikan kepadanya untuk dibawa ke alam baka tempat suci baraseh.
2. Adat Istiadat Nau
a. 1 ekor babi laki sebelum dibuang bulunya diambil dulu dari jungur sampai telinga, ekor dan kuku kakinya dengan cara diturih kulitnya.
b. 2 ekor ayam masing-masing diambil sayap, kepala dan kaki sebelah kanan. Kesemuaini dibawa di kuburan (tanda memberi simati). Seluruh anggota keluarga yang datang menyiapkan keperluan pati jenazah, tambak, dan persiapan lainnya 1 buah tempayan paluk dan peralatan pekerjaan yang pernah ia miliki untuk dibawa kekuburan.
c. Jika yang sedang keturunan yang mempunyai kedudukan ditengah-tengah masyarakat ianya supaya dibuatkan untuk seorang laki-laki ini dibuat sanung/ baegamangk selama 3 hari berturut-turut setelah jenazah dimakamkan sampai kepada adat muang abu.
d. Adat istiadat membuat pangkalan atau baegamangk (1 hari 1 ekor ayam) disediakan juga makanan yang agak mewah, jangan sampai lapar orang yang bekerja, karena menaruh pandangan adat kemewahan yang dilakukan pada saat mempersiapkan keperluan orangmeninggal, ini langsung ditempatkan ditempat suci baraseh (di bait pama)
e. Sedangkan kalau yang meninggal setiap perempuan, dia dibuatkan pangkalat dan harus dibuat pada saat jenazah belum dimakamkan dengan perlengkapan seperti huruf c diatas pembuatannya hanya 1 hari.
3. Adat Istiadat Nurutant Jenazah
Jenazah dimasukan didalam alokng (peti) semua anaknya dipersilahkan untuk melangkahi jenazah masing-masing 7 kali anggota keluarga lainnya menyiapkan 1 tombak, 2 payung, 3 dompo untuk dibawa oleh orang yang terdepan membunyikan gong dan membunyikan letusan senapan (bedil)memecahkan tambangk air tadi dibawa juga dikuburan untuk dipasangkan sebagai suda sebanyak 7 biji di keliling kuburan.
4. Adat Istiadat Sampai Di Kuburan
Sebelum masukan pati jenazah, lubang lahat dipasang sau, dengan dompo yang dibawa dari rumah ditambah dengan longke untuk rabun dikuburan, setelah petidimasukan dilapisi lobang didirikan sebatang kayu kecil untuk lobang panyaru sumangat semua anggota keluarga yang ikut menyiapkan di kuburan dan membagi-bagikan semua makanan yang disiapkan untuk simati kepada semua keluarga yang telah dikuburkan terlebih dahulu ditempat ini.
Pangurukng sumangat dilaksanakan setelah selesai penimbusan tanah kuburan, salah satu seorang menyampaikan pesan-pesan kepada almarhum dengan terlebih dahulu nigapm (menepuk) tanah sebanyak 7 kali. Setelah pesan-pesan selesai dibagikan pangurukng sumangat berupa daun yang
dilepetan tersebut supaya tidak rere’ (dipengaruhhi) oleh roh almarhum dan sumangatnya masuk kedalam tubuhnya masing-masing (lepetan daun disisipkan ketelinga).
Saat acara pangurukng sumangat dikuburkan, si pembawa pesan mulai menigapm ( menepuk ) tanah pada bagian kepala sebanyak 7 kali seraya mengatakan kata-kata sebagai berikut : “asa-dua-talu-
ampat-lima-anam-tujuh.................duhani kao sianu(disebutkan namanya) a-iatn aku masatnnia kao, kao dah pulakng ka’ nagari binua asalnyu, man jodo bagiatnnyu-janji man ne’ nangenyu. Kao batikar tanah- bakubu amutn – babantal urat – barapi janyahakng, bajalatn kao baik-baik- ame kao ngeba’ nganan, tanui ne’ nangenyu, ame kao ngalit, ame kao taap surabekng ka’ jukut urakng – pamare’ kami dah cukup ka’ kao, nang ada kao tantuatn – nang nana’ ame’ kao gago’i, kao urajng nang di pamaluatn, urakng nang pagalar pangurangtakng, ame kao jadi ganye – jadi ular – jadi tikus – jadi ampe’-ampe’ – ame kao jadi baho ka’ uma ka’ tahutn. Kao jadi biat – jadi pama – tangahi’ anak ucu’nyu - kampong halaman – binua nagari kami. Didiatn kao tamui da’ sainu (disebutkan sanak keluarganya yang dikuburkan disitu) – ame kita na’ bapaduliatn.
Iatn pasatn kami dah cukup ka’ kao sianu’a – kao dah pulakng ka binua nagari asalnyu – man jodo bagiatnnyu – ame kao ngarere ngalimat kami. Kurs... sumangat kami – pulakng ka’tubuh ka’ karokngnya – ame rere’ man urakng mati”.
5. Adat Istiadat Pulang dari kuburan.
a. Pulang dari kuburan langsung mandi di sungai air bunga lengkap dengan balangir babadak, sebelum naik rumah basau’ barabun dengan daun longke daun mentawa dal lain-lain. Karena menurut adat kuburanadalah tempat yang kotor nang ece.
b. Sesampai dirumah mereka yang ikut menguburkan boleh mandi dahulu, kemudian selesai mandi mereka kumpul kembali dirumah duka, dan diadakan upacara “panetekng” untuk nyaru (memanggil) sumangat kemungkinan sudah ada yang rere’ dengan roh almarhum. Setelah selesai adat Panetekng dilanjutkan dengan acara makan, barulah diadakan acara becece’ mati sebagaimana yang telah diuraikan.
c. Ai’ Balik :
Dipelantaran (pante) dipasang ai’ balik yang terdiri dari abu yang ditaruh diatas sobokng, kemudian didalam piring dan ditutup dengan pangayak. Sedangkan diujung pante dibuat tanga antu, yang tepaknya terbalik. Kesemuanya ini dimaksudkan untukmenyadarkan roh almarhum bahwa ia sudah berada dialam lain (sudah mati) tatkala ia melihat bayangannya didalam air yang ditutup pangayak. Abu dalam sobokng maksudnya supaya bekasnampak dan dapat diketahui bahwa ia betul-betul datang kembali.
6. Adat Istiadat Bacece’ Mati
a. Adat Bacece’ mati diadakan dirumah yang meninggal pada setelah makan sore (malam) dengan takarant adat buah pacak 10 amas dengan rincian sebagai berikut :
1 buah mangkok + paku untuk ngago’ (lihat berapa cabang yang menanggil orang)
1 singkap pingant + paku untuk nglulut ( memandikan 0
1 singkap pingant + paku untuk nang bakayu (pati jenazah + tambak)
1 singkap pingant + paku untuk nang mikul (membawa peti jenazah)
1 singkap pingant + paku +1 1 lembar parang panumbah tanah untuk gali lobang kuburan dan natak bantal kaintonotn.
1 buah mangkok + lonekng manok + paku untuk badango
Yang menerima pingant dan mangkok tidak harus dibawa tapi hanya dipegang dan paku hanya digigit sebagai pangkaras, terkecuali mati bangkak, mati tara, diburut, mati baranak, mati ngotori memang harus dibawa.
b. Pertanyaan dari masyarakat mengawali sebab kematian, apa ada penyebab lain selain jodo janji bakalahi, baancam, mati man jodoh janjinya, mati suci baraseh nana, bajangkang baraba, mati balangir babadak.
c. Pertanyaan kedua tantang persengketaan utangk piutangk, kedalam pertanyaan ini supaya jelas, kalau ada simati berutangk atau ada orang lain yang barutangk pada simati ini harus dibicarakan dalam tempo 3 hari sampai 7 hari, dan harus diketahui oleh masyarakat, sampai juga pada pembagian harta benda simati yang kembalinya kepada siapa-siapa, ini supaya diketahui oleh waris
dan pengurus. Seandainya pada saat itu ada yang belum sempat hadir, masih diberikan kesempatan 3 hari kemudian yaitu pada saat upacara adat muangi abu. Tikar-kubu’ atau bisa juga setelah 7 hari setelah diadakan upacara adat basuayak. Pangajuan utang piutang setelah itu, tidak dibenarkan. Pertanyan ketiga apakah tahutnnya ada ditantuant (akan dilaksanakan upacara adat ngalapasatn tahutn, setelah 3 tahutn). Jika tidak ada dilaksanakan, cukup diadakan berapus setelah 7 hari.
Pertanyaan keempat yaitu mengenai keadaan tubuh, jika yang meninggal suaminya, kebetulan istri almarhum masih dalam usia produktif yang di tanyakan apakah isteri almarhum dalam keadaan hamil atau tidak kotor, atau baru habis kena kotor. Pertanyaan kelima mengenai tanggung jawab nantuant, ngiringkant, anak-anak almarhum. Waris dua belah pihak masing-masing menangkupkan tangan diatas kepala anak-anak, tanda bersedia membantu pada saat di perlukan.
Kemudian diadakan adat “kalangkah tikar” oleh isteri almarhum berupaya uang katip di taruh diatas piring kecil, diterima oleh dua madi ”ene” (sepupu dua kaki) almarhum. Kalangkah tikar dikeluarkan oleh isteri almarhum yang masih berusia produktif, artinya mohon persetujuan ahli waris, jika ada suatu isteri almarhum mendapat jodih, asal saja perlu bermufakat dengan ahli waris almarhum terlebih dahulu, jika perjodohan itu masih dalam kurun waktu 3 tahn atau sebelum ngalapasatn tahutn. Kalau perjodohan itu tidak dimufakatkan dengan ahli waris, maka ia dapat dapat dikenakan adat “parangkat antu” atau parangkat mati. Akan tetapi walaupun telah mufakat dengan ahli waris almarhum, ia dapat dikenakan adat “pampalit ai” mata.
7. Adat Istiadat Malahi
Apabila simati meninggal “ningalatn tahutn” artinya masih dalam musim patahunan artinya dari batas mulai nugal padi hingga sebelum lepas panen, maka diadakan balahatn ditengah uma yaitu sebagai malaki’ (memberikan bagian padanya). Karna itu telah merupakan bagiannya dfipagar dengan bambu yang dibelahl, cukup diberi alat-alat ka’ uma seperti tarinak, topokng pamanih dsb.
8. Adat stiadat Muangi Tikar Kubu (Ngabu).
Upacara adat ini dilakukan setelah 3 hari ia dikuburkan, dimaksudkan agar roh almarhum tidak lagi mengingat-ngingat segala pakaian sudah diserahkan kepadanya(muangi/dibuang) adalah istilah yang juga agar roh almarhum tidak menganggu keluarganya yang masih hidup, mungkin karena dia (rohnya) dataang untuk meminta pakaiannya.
9. Adat Istiadat Basuayak (bnarapus).
Basuayak adalah suatu adat yang dilakukan 7 hari setelah ia meninggal. Maksudnya adalah untuk memisahkan roh almarhum dengan keluarganya yang masih hidup, agar rohnya tidak mempengaruhi, ngarere’ ataupun ngalimat keluarganya.
Hal ini dilakukan apabila ada tanda-tanda, ataupun perasaan bahwa rohnya masih “dirasakan” sering datang.
Hari ketujuh ini, jika digunakan untuk basuayak, bisa juga digunakan untuk berapus, yaitu suatu upacara adat yang diadakan apabila ada ngalapasatn tahutn tidak akan dilaksanakan, namun beban perasaannya tidak ada lagi.
10. Adat Istiadat Ngalapasatn Tahutn
Ngalapasatn tahutn upacara adat yang dilaksanakan setelah 3 tahutn almarhum meninggal. Bias juga dilakukan sebelum 3 tahutn ngalapasatn tahutn. Setelah itu pada masa-masa almarhum dengan keluarga sudah diangap habis (selesai).
11. Adat Istiadat Makam Panyugu
Walaupun hubungan roh sudah dianggap selesai setelah diadakan upacara adat ngalapasatn tahutn, namun ada pula semacam kebiasaan dalam masyarakat untuk tetap menghormati almarhum dengan mengadakan persembahan dikuburan (makam) almarhum.
Hal ini dilakukan karena mereka anggap penjelmanya sebagai biat pama yang dapat melindungi dan memberikan rejeki kepada anak cucunya. Mungkin saja selama hidupnya almarhum adalah seorang yang baik seorang pagalar ataupun dianggap seorang yang sangat bijaksana dan banyak ilmunya. Karena kuburan itu dibersihkan dan dihormati pada saat tertentu untuk persembahan / bapinta, makanya disebut makam panyugu.
Langganan:
Postingan (Atom)